Rabu, 18 Mei 2016

Lalu Husnul Yaqien Juniansyah








MITOLOGI KERAJAAN NUSANTARA

Nenek moyang bangsa Indonesia diduga kuat oleh para Arkeolog adalah ras Austronesia. Ras ini mendarat di Kepulauan Nusantara, dan memulai peradaban neolitik. Bukti arkeologi menunjukkan bahwa budaya neolitik dimulai sekitar 5000 tahun lalu di kepulauan Nusantara. Bersamaan dengan budaya baru ini bukti antropologi menunjukkan muncul juga manusia dengan ciri fisik Mongoloid. Populasi Mongoloid ini menyebar di kawasan Nusantara sekitar 5000 sampai 3000 tahun lalu dengan membawa bahasa Austronesia dan teknologi pertanian.

Di Nusantara saat ini paling tidak terdapat 50 populasi etnik Mongoloid yang mendiaminya. Budaya dan bahasa mereka tergolong dalam satu keluarga atau filum bahasa, yaitu bahasa-bahasa Austronesia yang menunjukkan mereka berasal dari satu nenek moyang. Lalu dari manakah populasi Austronesia ini berasal dan daerah manakah pertama kalinya mereka huni di Nusantara ini? Sebuah pertanyaan yang belum terjawab oleh riset sejarah selama ini. Salah satu pendekatan yang dapat dilakukan adalah pengkajian dan analisis yang komprehensif tentang bukti sejarah yang ada dan menelusuri hubungan historis suatu daerah dengan daerah lainnya. Metode yang digunakan adalah mengumpulkan cerita/tombo yang ada di masyarakat dan penelusuran fakta yang mendukung tombo tersebut.

Kerajaan tertua di Pulau Jawa berdasarkan bukti arkeologis adalah kerajaan Salakanegara dibangun abad ke-2 Masehi yang terletak di Pantai Teluk Lada, Pandeglang Banten. Diduga kuat mereka berimigrasi dari Sumatra. Sedangkan Kerajaan tertua di Sumatra adalah kerajaan Melayu Jambi (Chu-po), yaitu Koying (abad 2 M), Tupo (abad ke 3 M), dan Kuntala/Kantoli (abad ke 5 M). Menurut cerita/tombo adat Lubuk Jambi yang diwarisi dari leluhur mengatakan bahwa disinilah lubuk (asal) orang Jambi, oleh karena itu daerah ini bernama Lubuk Jambi. Dalam tombo juga disebutkan di daerah ini terdapat sebuah istana kerajaan Kandis yang sudah lama hilang. Istana itu dinamakan istana Dhamna, berada di puncak bukit yang dikelilingi oleh sungai yang jernih. Penelusuran peninggalan kerajaan ini telah dilakukan selama 7 bulan (September 2008-April 2009), dan telah menemukan lokasi, artefak, dan puing-puing yang diduga kuat sebagai peninggalan Kandis dengan ciri-ciri lokasi mirip dengan sketsa Plato (347 SM) tentang Atlantis. Namun penemuan ini perlu dilakukan penelitian arkeologis lebih lanjut.

Nusantara merupakan sebutan untuk negara kepulauan yang terletak di kepulauan Indonesia saat ini. Catatan bangsa Tionghoa menamakan kepulauan ini dengan Nan-hai yang berarti Kepulauan Laut Selatan. Catatan kuno bangsa India menamainya Dwipantara yang berarti Kepulauan Tanah Seberang, yang diturunkan dari kata Sanskerta dwipa (pulau) dan antara (luar, seberang) dan disebut juga dengan Swarnadwiva (pulau emas, yaitu Sumatra sekarang). Bangsa Arab menyebut daerah ini dengan Jaza’ir al-Jawi (Kepulauan Jawa).

Migrasi manusia purba masuk ke wilayah Nusantara terjadi para rentang waktu antara 100.000 sampai 160.000 tahun yang lalu sebagai bagian dari migrasi manusia purba “out of Africa“. Ras Austolomelanesia (Papua) memasuki kawasan ini ketika masih bergabung dengan daratan Asia kemudian bergerak ke timur, sisa tengkoraknya ditemukan di gua Braholo (Yogyakarata), gua Babi dan gua Niah (Kalimantan). Selanjutnya kira-kira 2000 tahun sebelum Masehi, perpindahan besar-besaran masuk ke kepulauan Nusantara (imigrasi) dilakukan oleh ras Austronesia dari Yunan dan mereka menjadi nenek moyang suku-suku di wilayah Nusantara bagian barat. Mereka datang dalam 2 gelombang kedatangan yaitu sekitar tahun 2.500 SM dan 1.500 SM (Wikipedia, 2009).

Bangsa nenek moyang ini telah memiliki peradaban yang cukup baik, mereka paham cara bertani yang lebih baik, ilmu pelayaran bahkan astronomi. Mereka juga sudah memiliki sistem tata pemerintahan sederhana serta memiliki pemimpin (raja kecil). Kedatangan imigran dari India pada abad-abad akhir Sebelum Masehi memperkenalkan kepada mereka sistem tata pemerintahan yang lebih maju (kerajaan).

Kepulauan Nusantara saat ini paling tidak ada 50 populasi etnik yang mendiaminya, dengan karakteristik budaya dan bahasa tersendiri. Sebagian besar dari populasi ini dengan cirri fisik Mongoloid, mempunyai bahasa yang tergolong dalam satu keluarga atau filum bahasa. Bahasa mereka merupakan bahasa-bahasa Austronesia yang menunjukkan mereka berasal dari satu nenek moyang. Sedangkan di Indonesia bagian timur terdapat satu populasi dengan bahasa-bahasa yang tergolong dalam berbagai bahasa Papua.

Pusat Arkeologi Nasional telah berhasil meneliti kerangka berumur 2000-3000 tahun, yaitu penelitian DNA purba dari situs Plawangan di Jawa Tengah dan Gilimanuk Bali. Penelitian itu menunjukkan bahwa manusia Indonesia yang hidup di kedua situs tersebut telah berkerabat secara genetik sejak 2000-3000 tahun lalu. Pada kenyataannya hingga sekarang populasi manusia Bali dan Jawa masih memiliki kekerabatan genetik yang erat hingga sekarang.

Hasil penelitian Alan Wilson tentang asal usul manusia di Amerika Serikat (1980-an) menunjukkan bahwa manusia modern berasal dari Afrika sekitar 150.000-200.000 tahun lampau dengan kesimpulan bahwa hanya ada satu pohon filogenetik DNA mitokondria, yaitu Afrika. Hasil penelitian ini melemahkan teori bahwa manusia modern berkembang di beberapa penjuru dunia secara terpisah (multi origin). Oleh karena itu tidak ada kaitannya manusia purba yang fosilnya ditemukan diberbagai situs di Jawa (homo erectus, homo soloensis, mojokertensis) dan di Cina (Peking Man) dengan perkembangan manusia modern (homo sapiens) di Asia Timur. Manusia purba ini yang hidup sejuta tahun yang lalu merupakan missing link dalam evolusi. Saat homo sapiens mendarat di Kepulauan Nusantara, pulau Sumatra, Jawa dan Kalimantan masih tergabung dengan daratan Asia sebagai sub-benua Sundaland. Sedangkan pulau Papua saat itu masih menjadi satu dengan benua Australia sebagai Sahulland.

Teori kedua yang bertentangan dengan teori imigrasi Austronesia dari Yunan dan India adalah teori Harry Truman. Teori ini mengatakan bahwa nenek moyang bangsa Austronesia berasal dari dataran Sunda-Land yang tenggelam pada zaman es (era pleistosen). Populasi ini peradabannya sudah maju, mereka bermigrasi hingga ke Asia daratan hingga ke Mesopotamia, mempengaruhi penduduk lokal dan mengembangkan peradaban. Pendapat ini diperkuat oleh Umar Anggara Jenny, mengatakan bahwa Austronesia sebagai rumpun bahasa yang merupakan sebuah fenomena besar dalam sejarah manusia. Rumpun ini memiliki sebaran yang paling luas, mencakup lebih dari 1.200 bahasa yang tersebar dari Madagaskar di barat hingga Pulau Paskah di Timur. Bahasa tersebut kini dituturkan oleh lebih dari 300 juta orang. Pendapat Umar Anggara Jenny dan Harry Truman tentang sebaran dan pengaruh bahasa dan bangsa Austronesia ini juga dibenarkan oleh Abdul Hadi WM (Samantho, 2009).

Teori awal peradaban manusia berada di dataran Paparan Sunda (Sunda-Land) juga dikemukan oleh Santos (2005). Santos menerapkan analisis filologis (ilmu kebahasaan), antropologis dan arkeologis. Hasil analisis dari reflief bangunan dan artefak bersejarah seperti piramida di Mesir, kuil-kuil suci peninggalan peradaban Maya dan Aztec, peninggalan peradaban Mohenjodaro dan Harrapa, serta analisis geografis (seperti luas wilayah, iklim, sumberdaya alam, gunung berapi, dan cara bertani) menunjukkan bahwa sistem terasisasi sawah yang khas Indonesia ialah bentuk yang diadopsi oleh Candi Borobudur, Piramida di Mesir, dan bangunan kuno Aztec di Meksiko. Setelah melakukan penelitian selama 30 tahun Santos menyimpulkan bahwa Sunda Land merupakan pusat peradaban yang maju ribuan tahun silam yang dikenal dengan Benua Atlantis.

Dari kedua teori tentang asal usul manusia yang mendiami Nusantara ini, benua Sunda-Land merupakan benang merahnya. Pendekatan analisis filologis, antropologis dan arkeologis dari kerajaan Nusantara kuno serta analisis hubungan keterkaitan satu dengan lainnya kemungkinan besar akan menyingkap kegelapan masa lalu Nusantara. Penelitian ini bertujuan untuk menelusuri peradaban awal Nusantara yang diduga adalah kerajaan Kandis.


Nusantara dalam Lintasan Sejarah

Kepulauan Nusantara telah melintasi sejarah berabad-abad lamanya. Sejarah Nusantara ini dapat dikelompokkan menjadi lima fase, yaitu zaman pra sejarah, zaman Hindu/Budha, zaman Islam, zaman Kolonial, dan zaman kemerdekaan. Kalau dirunut perjalanan sejarah tersebut zaman kemerdekaan, kolonial, dan zaman Islam mempunyai bukti sejarah yang jelas dan tidak perlu diperdebatkan. Zaman Hindu/Budha juga telah ditemukan bukti sejarah walaupun tidak sejelas zaman setelahnya. Zaman sebelum Hindu/Budha masih dalam teka-teki besar, maka dalam menjawab ketidakjelasan ini dapat dilakukan dengan analisa keterkaitan antar kerajaan. Dalam catatan sejarah terdapat informasi yang terputus antara zaman pra sejarah dengan zaman Hindu/Budha. Peradaban Nusantara kuno bermula di Sumatra bagian tengah dan ujung barat pulau Jawa. Dari abad ke-1 sampai abad ke-4 daerah yang dihuni meliputi Jambi (kerajaan Melayu Tua), Lampung (Kepaksian Skala Brak Kuno), dan Banten (kerajaan Salakanegara). Untuk mengetahui peradaban awal Nusantara kemungkinan besar dapat diketahui melalui analisa keterkaitan tiga kerajaan tersebut.
Kerajaan Melayu Tua di Jambi

Di daerah Jambi terdapat tiga kerajaan Melayu tua yaitu, Koying, Tupo, dan Kantoli. Kerajaan Koying terdapat dalam catatan Cina yang dibuat oleh K’ang-tai dan Wan-chen dari wangsa Wu (222-208) tentang adanya negeri Koying. Tentang negeri ini juga dimuat dalam ensiklopedi T’ung-tien yang ditulis oleh Tu-yu (375-812) dan disalin oleh Ma-tu-an-lin dalam ensiklopedi Wen-hsien-t’ung-k’ao. Diterangkan bahwa di kerajaan Koying terdapat gunung api dan kedudukannya 5.000 li di timur Chu-po (Jambi). Di utara Koying ada gunung api dan di sebelah selatannya ada sebuah teluk bernama Wen. Dalam teluk itu ada pulau bernama P’u-lei atau Pulau. Penduduk yang mendiami pulau itu semuanya telanjang bulat, lelaki maupun perempuan, dengan kulit berwarna hitam kelam, giginya putih-putih dan matanya merah. Melihat warna kulitnya kemungkinan besar penduduk P’u-lei itu bukan termasuk rumpun Proto-Negrito atau Melayu Tua yang sebelumnya menghuni daratan Sumatera (Wikipedia, 2009).

Menurut data Cina Koying telah melakukan perdagangan dalam abad ke 3 M juga di Pasemah wilayah Sumatra Selatan dan Ranau wilayah Lampung telah ditemukan petunjuk adanya aktivitas perdagangan yang dilakukan oleh Tonkin atau Tongkin dan Vietnam atau Fu-nan dalam abad itu juga. Malahan keramik hasil zaman dinasti Han (abad ke 2 SM sampai abad ke 2 M) di temukan di wilayah Sumatera tertentu.

Adanya kemungkinan penyebaran berbagai negeri di Sumatera Tengah hingga Palembang di Selatan dan Sungai Tungkal di utara digambarkan oleh Obdeyn (1942), namun dalam gambar itu kedudukan negeri Koying tidak ada. Jika benar Koying berada di sebelah timur Tupo atau Thu-po, Tchu-po, Chu-po dan kedudukannya di muara pertemuan dua sungai, maka ada dua tempat yang demikian yakni Muara Sabak Zabaq, Djaba, Djawa, Jawa dan Muara Tembesi atau Fo-ts’I, San-fo-tsi’, Che-li-fo-che sebelum seroang sampai di Jambi Tchan-pie, Sanfin, Melayur, Moloyu, Malalyu. Dengan demikian seolah-olah perpindahan Kerajaan Malayu Kuno pra-Sriwijaya bergeser dari arah barat ke timur mengikuti pendangkalan Teluk Wen yang disebabkan oleh sedimen terbawa oleh sungai terutama Batang Tembesi. Hubungan dagang secara langsung terjadi dalam perdagangan dengan negeri-negeri di luar di sekitar Teluk Wen dan Selat Malaka maka besar kemungkinan negeri Koying berada di sekitar Alam Kerinci.

Keberadaan Koying yang pernah dikenal di manca negara sampai abad ke 5 M sudah tidak kedengaran lagi. Diperkirakan setelah Koying melepaskan kekuasaanya atas kerajaan Kuntala, kejayaan pemerintahan Koying secara perlahan-lahan menghilang. Koying yang selama ini tersohor sebagai salah satu negara nusantara pemasok komoditi perdagangan manca negara sudah tidak disebut-sebut lagi. Keadaan seperti ini sebenarnya tidak dialami Koying saja, karena kerajaan lain pun yang pernah jaya semasa itu banyak pula yang mengalami nasib yang sama.
Namun yang jelas, di wilayah Alam Kerinci sebelum atau sekitar permulaan abad masehi telah terdapat sebuah pemerintahan berdaulat yang diakui keberadaanya oleh negeri Cina yang disebut dengan negeri Koying atau kerajaan Koying.

Kerajaan Kepaksian Sekala Brak

Sekala Brak adalah sebuah kerajaandi kaki Gunung Pesagi (gunung tertinggi di Lampung) yang menjadi cikal-bakal suku bangsa/etnis Lampung saat ini. Asal usul bangsa Lampung adalah dari Sekala Brak yaitu sebuah Kerajaan yang letaknya di dataran Belalau, sebelah selatan Danau Ranau yang secara administratif kini berada di Kabupaten Lampung Barat. Dari dataran Sekala Brak inilah bangsa Lampung menyebar ke setiap penjuru dengan mengikuti aliran Way atau sungai-sungai yaitu Way Komring, Way Kanan, Way Semangka, Way Seputih, Way Sekampung dan Way Tulang Bawang beserta anak sungainya, sehingga meliputi dataran Lampung dan Palembang serta Pantai Banten.

Dalam catatan Kitab Tiongkok kuno yang disalin oleh Groenevelt kedalam bahasa Inggris bahwa antara tahun 454 dan 464 Masehi disebutkan kisah sebuah Kerajaan Kendali yang terletak di antara pulau Jawa dan Kamboja. Hal ini membuktikan bahwa pada abad ke 3 telah berdiri Kerajaan Sekala Brak Kuno yang belum diketahui secara pasti kapan mulai berdirinya. Kerajaan Sekala Brak menjalin kerjasama perdagangan antar pulau dengan Kerajaan Kerajaan lain di Nusantara dan bahkan dengan India dan Negeri Cina.

Kerajaan Salakanegara

Kerajaan Salakanagara (Salaka=Perak) atau Rajatapura termasuk kerajaan Hindu. Ceritanya atau sumbernya tercantum pada Naskah Wangsakerta. Kerajaan ini dibangun tahun 130 Masehi yang terletak di pantai Teluk Lada (wilayah Kabupaten Pandeglang, Banten). Raja pertamanya yaitu Dewawarman yang memiliki gelar Prabu Darmalokapala Dewawarman Haji Rakja Gapura Sagara yang memerintah sampai tahun 168 M.

Dalam Babad suku Sunda, Kota Perak ini sebelumnya diperintah oleh tokoh Aki Tirem Sang Aki Luhur Mulya atau Aki Tirem, waktu itu kota ini namanya Pulasari. Aki Tirem menikahkan putrinya yang bernama Pohaci Larasati dengan Dewawarman. Dewawarman ini sebenarnya Pangeran yang asalnya dari negri Palawa di India Selatan. Daerah kekuasaan kerajaan ini meliputi semua pesisir selat Sunda yaitu pesisir Pandeglang, Banten ke arah timur sampai Agrabintapura (Gunung Padang, Cianjur), juga sampai selat Sunda hingga Krakatau atau Apuynusa (Nusa api) dan sampai pesisir selatan Swarnabumi (pulau Sumatra). Ada juga dugaan bahwa kota Argyre yang ditemukannya Claudius Ptolemalus tahun 150 M itu kota Perak atau Salaknagara ini. Dalam berita Cina dari dinasti Han, ada catatan dari raja Tiao-Pien (Tiao=Dewa, Pien=Warman) dari kerajaan Yehtiao atau Jawa, mengirim utusan/duta ke Cina tahun 132 M.

Mitologi Minangkabau

Orang Minangkabau mengakui bahwa mereka merupakan keturunan Raja Iskandar Zulqarnaen (Alexandre the Great) Raja Macedonia yang hidup 354-323 SM. Dia seorang raja yang sangat besar dalam sejarah dunia. Sejarahnya merupakan sejarah yang penuh dengan penaklukan daerah timur dan barat yang tiada taranya. Dia berkeinginan untuk menggabungkan kebudayaan barat dengan kebudayaan timur.
Dalam Tambo disebutkan bahwa Iskandar Zulkarnain mempunyai tiga anak, yaitu Maharajo Alif, Maharajo Dipang, dan Maharajo Dirajo. Maharajo Alif menjadi raja di Benua Ruhun (Romawi), Maharajo Dipang menjadi raja di negeri Cina, sedangkan Maharajo Dirajo menjadi raja di Pulau Emas (Sumatera).

Kalau kita melihat kalimat-kalimat tambo sendiri, maka dikatakan sebagai berikut: “…Tatkala maso dahulu, batigo rajo naiek nobat, nan surang Maharajo Alif, nan pai ka banda Ruhum, nan surang Maharajo Dipang nan pai ka Nagari Cino, nan surang Maharajo Dirajo manapek ka pulau ameh nan ko…” (pada masa dahulu kala, ada tiga orang yang naik tahta kerajaan, seorang bernama Maharaja Alif yang pergi ke negeri Ruhum (Eropa), yang seorang Maharajo Dipang yang pergi ke negeri Cina, dan seorang lagi bernama Maharajo Dirajo yang menepat ke pulau Sumatera).

Dalam versi lain diceritakan, seorang penguasa di negeri Ruhum (Rum) mempunyai seorang putri yang sangat cantik. Iskandar Zulkarnain menikah dengan putri tersebut. Dengan putri itu Iskandar mendapat tiga orang putra, yaitu Maharaja Alif, Maharaja Depang, dan Maharaja Diraja. Setelah ketiganya dewasa Iskandar berwasiat kepada ketiga putranya sambil menunjuk-nunjuk seakan-akan memberitahukan ke arah itulah mereka nanti harus berangkat melanjutkan kekuasaannya. Kepada Maharaja Alif ditunjuk kearah Ruhum, Maharaja Depang negeri Cina, Maharaja Diraja ke Pulau Emas (Nusantara).

Setelah Raja Iskandar wafat, ketiga putranya berangkat menuju daerah yang ditunjukkan oleh ayahnya. Maharaja Diraja membawa mahkota yang bernama “mahkota senggahana”, Maharaja Depang membawa senjata bernama “jurpa tujuh menggang”, Maharaja Alif membawa senjata bernama “keris sempana ganjah iris” dan lela yang tiga pucuk. Sepucuk jatuh ke bumi dan sepucuk kembali ke asalnya jadi mustika dan geliga dan sebuah pedang yang bernama sabilullah.

Berlayarlah bahtera yang membawa ketiga orang putra itu ke arah timur, menuju pulau Langkapuri. Setibanya di dekat pulau Sailan ketiga saudara itu berpisah, Maharaja Depang terus ke Negeri Cina, Maharaja Alif kembali ke negeri Ruhum, dan Maharaja Diraja melanjutkan pelayaran ke tenggara menuju sebuah pulau yang bernama Jawa Alkibri atau disebut juga dengan Pulau Emas (Andalas atau Sumatra sekarang). Setelah lama berlayar kelihatanlah puncak gunung merapi sebesar telur itik, maka ditujukan bahtera kesana dan berlabuh didekat puncak gunung itu. Seiring menyusutnya air laut mereka berkembang di sana.

Dari keterangan Tambo itu tidak ada dikatakan angka tahunnya hanya dengan istilah “Masa dahulu kala” itulah yang memberikan petunjuk kepada kita bahwa kejadian itu sudah berlangsung sangat lama sekali, sedangkan waktu yang mencakup zaman dahulu kala itu sangat banyak sekali dan tidak ada kepastiannya. Kita hanya akan bertanya-tanya atau menduga-duga dengan tidak akan mendapat jawaban yang pasti. Di kerajaan Romawi atau Cina memang ada sejarah raja-raja yang besar, tetapi raja mana yang dimaksudkan oleh Tambo tidak kita ketahui. Dalam hal ini rupanya Tambo Alam Minangkabau tidak mementingkan angka tahun selain dari mementingkan kebesaran kemasyuran nama-nama rajanya.

Mitologi Lubuk Jambi[2]

Pulau Perca adalah salah satu sebutan dari nama Pulau Sumatera sekarang. Pulau ini telah berganti-ganti nama sesuai dengan perkembangan zaman. Diperkirakan pulau ini dahulunya merupakan satu benua yang terhampar luas di bagian selatan belahan bumi. Karena perubahan pergerakan kulit bumi, maka ada benua-benua yang tenggelam ke dasar lautan dan timbul pulau-pulau yang berserakan. Pulau Perca ini timbul terputus-putus berjejer dari utara ke selatan yang dibatasi oleh laut. Pada waktu itu Pulau Sumatera bagaikan guntingan kain sehingga pulau ini diberi nama Pulau Perca. Pulau Sumatera telah melintasi sejarah berabad-abad lamanya dengan beberapa kali pergantian nama yaitu: Pulau Perca, Pulau Emas (Swarnabumi), Pulau Andalas dan terakhir Pulau Sumatra.

Pulau Perca terletak berdampingan dengan Semenanjung Malaka yang dibatasi oleh Selat Malaka dibagian Timur dan Samudra Hindia sebelah barat sebagai pembatas dengan Benua Afrika. Pulau Perca berdekatan dengan Semenanjung Malaka, maka daerah yang dihuni manusia pertama kalinya berada di Pantai Timur Pulau Perca karena lebih mudah dijangkau dari pada Pantai bagian barat. Pulau Perca yang timbul merupakan Bukit Barisan yang berjejer dari utara ke selatan, dan yang paling dekat dengan Semenanjung Malaka adalah Bukit Barisan yang berada di Kabupaten Kuantan Singingi sekarang, tepatnya adalah Bukit Bakau yang bertalian dengan Bukit Betabuh dan Bukit Selasih (sekarang berada dalam wilayah Kenagorian Koto Lubuk Jambi Gajah Tunggal, Kecamatan Kuantan Mudik, Kabupaten Kuantan Singingi, Propinsi Riau), sedangkan daratan yang rendah masih berada di bawah permukaan laut.

Nenek moyang Lubuk Jambi diyakini berasal dari keturunan waliyullah Raja Iskandar Zulkarnain. Tiga orang putra Iskandar Zulkarnain yang bernama Maharaja Alif, Maharaja Depang dan Maharaja Diraja berpencar mencari daerah baru. Maharaja Alif ke Banda Ruhum, Maharaja Depang ke Bandar Cina dan Maharaja Diraja ke Pulau Emas (Sumatra). Ketika berlabuh di Pulau Emas, Maharaja Diraja dan rombongannya mendirikan sebuah kerajaan yang dinamakan dengan Kerajaan Kandis yang berlokasi di Bukit Bakar/Bukit Bakau. Daerah ini merupakan daerah yang hijau dan subur yang dikelilingi oleh sungai yang jernih.

Maharaja Diraja sesampainya di Bukit Bakau membangun sebuah istana yang megah yang dinamakan dengan Istana Dhamna. Putra Maharaja Diraja bernama Darmaswara dengan gelar Mangkuto Maharaja Diraja (Putra Mahkota Maharaja Diraja) dan gelar lainnya adalah Datuk Rajo Tunggal (lebih akrab dipanggil). Datuk Rajo Tunggal memiliki senjata kebesaran yaitu keris berhulu kepala burung garuda yang sampai saat ini masih dipegang oleh Danial gelar Datuk Mangkuto Maharajo Dirajo. Datuk Rajo Tunggal menikah dengan putri yang cantik jelita yang bernama Bunda Pertiwi. Bunda Pertiwi bersaudara dengan Bunda Darah Putih. Bunda Darah Putih yang tua dan Bunda Pertiwi yang bungsu. Setelah Maharaja Diraja wafat, Datuk Rajo tunggal menjadi raja di kerajaan Kandis. Bunda Darah Putih dipersunting oleh Datuk Bandaro Hitam. Lambang kerajaan Kandis adalah sepasang bunga raya berwarna merah dan putih.

Kehidupan ekonomi kerajaan Kandis ini adalah dari hasil hutan seperti damar, rotan, dan sarang burung layang-layang, dan dari hasil bumi seperti emas dan perak. Daerah kerajaan Kandis kaya akan emas, sehingga Rajo Tunggal memerintahkan untuk membuat tambang emas di kaki Bukit Bakar yang dikenal dengan tambang titah, artinya tambang emas yang dibuat berdasarkan titah raja. Sampai saat ini bekas peninggalan tambang ini masih dinamakan dengan tambang titah.

Hasil hutan dan hasil bumi Kandis diperdagangkan ke Semenanjung Melayu oleh Mentri Perdagangan Dt. Bandaro Hitam dengan memakai ojung atau kapal kayu. Dari Malaka ke Kandis membawa barang-barang kebutuhan kerajaan dan masyarakat. Demikianlah hubungan perdagangan antara Kandis dan Malaka sampai Kandis mencapai puncak kejayaannya. Mentri perdagangan Kerajaan Kandis yang bolak-balik ke Semenanjung Malaka membawa barang dagangan dan menikah dengan orang Malaka. Sebagai orang pertama yang menjalin hubungan perdagangan dengan Malaka dan meninggalkan cerita Kerajaan Kandis dengan Istana Dhamna kepada anak istrinya di Semenanjung Melayu.

Dt. Rajo Tunggal memerintah dengan adil dan bijaksana. Pada puncak kejayaannya terjadilah perebutan kekuasaan oleh bawahan Raja yang ingin berkuasa sehingga terjadi fitnah dan hasutan. Orang-orang yang merasa mampu dan berpengaruh berangsur-angsur pindah dari Bukit Bakar ke tempat lain di antaranya ke Bukit Selasih dan akhirnya berdirilah kerajaan Kancil Putih di Bukit Selasih tersebut.

Air laut semakin surut sehingga daerah Kuantan makin banyak yang timbul. Kemudian berdiri pula kerajaan Koto Alang di Botung (Desa Sangau sekarang) dengan Raja Aur Kuning sebagai Rajanya. Penyebaran penduduk Kandis ini ke berbagai tempat yang telah timbul dari permukaan laut, sehingga berdiri juga Kerajaan Puti Pinang Masak/Pinang Merah di daerah Pantai (Lubuk Ramo sekarang). Kemudian juga berdiri Kerajaan Dang Tuanku di Singingi dan kerajaan Imbang Jayo di Koto Baru (Singingi Hilir sekarang).

Dengan berdirinya kerajaan-kerajaan baru, maka mulailah terjadi perebutan wilayah kekuasaan yang akhirnya timbul peperangan antar kerajaan. Kerajaan Koto Alang memerangi kerajaan Kancil Putih, setelah itu kerajaan Kandis memerangi kerajaan Koto Alang dan dikalahkan oleh Kandis. Kerajaan Koto Alang tidak mau diperintah oleh Kandis, sehingga Raja Aur Kuning pindah ke daerah Jambi, sedangkan Patih dan Temenggung pindah ke Merapi.

Kepindahan Raja Aur Kuning ke daerah Jambi menyebabkan Sungai yang mengalir di samping kerajaan Koto Alang diberi nama Sungai Salo, artinya Raja Bukak Selo (buka sila) karena kalah dalam peperangan. Sedangkan Patih dan Temenggung lari ke Gunung Merapi (Sumatra Barat) di mana keduanya mengukir sejarah Sumatra Barat, dengan berganti nama Patih menjadi Dt. Perpatih nan Sabatang dan Temenggung berganti nama menjadi Dt. Ketemenggungan.

Tidak lama kemudian, pembesar-pembesar kerajaan Kandis mati terbunuh diserang oleh Raja Sintong dari Cina belakang, dengan ekspedisinya dikenal dengan ekspedisi Sintong. Tempat berlabuhnya kapal Raja Sintong, dinamakan dengan Sintonga. Setelah mengalahkan Kandis, Raja Sintong beserta prajuritnya melanjutkan perjalanan ke Jambi. Setelah kalah perang pemuka kerajaan Kandis berkumpul di Bukit Bakar, kecemasan akan serangan musuh, maka mereka sepakat untuk menyembunyikan Istana Dhamna dengan melakukan sumpah. Sejak itulah Istana Dhamna hilang, dan mereka memindahkan pusat kerajaan Kandis ke Dusun Tuo (Teluk Kuantan sekarang).

Penelitian ini dikelompkkan menjadi dua, yaitu penelitian pendahuluan dan penelitian lanjutan. Penelitian pendahuluan terdiri dari mengumpulkan cerita/tombo/mitologi di daerah Lubuk Jambi dengan melakukan wawancara dengan pemangku adat setempat. Kemudian melakukan analisis topografi untuk mencari titik lokasi yang diduga kuat sebagai lokasi kerajaan. Tahap berikutnya adalah melakukan ekspedisi/pencarian lokasi. Penelitian lanjutan adalah penelitian arkeologis untuk membuktikan kebenaran cerita/tombo. Data yang didapatkan di lokasi dianalisis dan dicari keterkaitannya dengan bukti sejarah dan cerita di daerah sekitarnya (Jambi dan Minangkabau). Penelitian pendahuluan mulai dilaksanakan pada bulan September 2008 sampai April 2009, sementara penelitian lanjutan belum dilaksanakan karena keterbatasan sumberdaya.

Lokasi Kerajaan Kandis
Analisis topografi yang dilakukan pada peta satelit yang diambil dari google earth, ditemukan lokasi yang dicirikan di dalam tombo/cerita (bukit yang dikelilingi oleh sungai). Daerah tersebut berada pada titik 0042’58 LS dan 101020’14 BT (Gambar 1) atau berada hampir di titik tengah pulau Sumatra (perbatasan Sumatra Barat dan Riau). Lokasinya berada di tengah hutan adat Lubuk Jambi, oleh pemerintah dijadikan sebagai kawasan hutan lindung yang dinamakan dengan hutan lindung Bukit Betabuh. Jarak lokasi dari jalan lintas tengah Sumatra lebih kurang 10 km ke arah barat, dengan topografi perbukitan.

Pencarian lokasi/ekspedisi dilakukan dengan peralatan navigasi darat sederhana, yaitu menggunakan peta, kompas, dan teropong binokuler. Pada lokasi yang dituju, ditemukan hal-hal yang mencirikan bukit tersebut sebagai peninggalan peradaban manusia. Lebih kurang 2 km sebelum Bukit Bakar ditemukan batu karst/karang laut yang berjejer, batu ini diduga sebagai pagar lingkar luar kerajaan 
Pada bukit yang dikelilingi oleh sungai yang sangat jernih, pada bagian puncaknya ditemukan batu karst yang memenuhi puncak bukit . Batu karst itu pada lereng bagian timur dan utara tersingkap, sedangkan lereng selatan dan barat tertimbun. Lereng tenggara ditemukan seperti tiang batu yang diduga bekas menara istana
Pada lereng timur bukit sebelah atas kira-kira 1200 m dari sungai ditemukan mulut goa yang diduga pintu istana, akan tetapi pintu ini pada bagian dalam sudah tertutup oleh reruntuhan batu. Pintu goa ini tingginya 5 meter dengan ruangan di dalamnya sejauh 3 meter, dan dalam goa tersebut terlihat seperti ada ruangan besar di dalamnya namun sudah tertutup
Pada lereng bukit bagian selatan sampai ke barat ditemukan teras sebanyak tiga tingkat, diduga bekas cincin air, sementara lereng utara sampai timur sangat curam dan terlihat seperti terjadi erosi yang parah. Teras ini lebarnya rata-rata 4 m, jarak antara sungai dengan teras pertama kira-kira 200 m, teras pertama dengan teras kedua kira-kira 400 m, teras kedua dengan teras ketiga kira-kira 500 m dan panjang lereng diperkirakan 1500 m. Berdasarkan analisa di peta bukit ini dari timur ke barat berdiameter 3000 m, dan dari utara ke selatan berdiameter 3000 m, beda elevasi antara sungai dengan puncak bukit 245 m. Pada lereng barat daya, kira-kira pada ketinggian lereng 800 m ditemukan mata air yang mengalir deras. Ukuran ini berdasarkan perkiraan di lapangan dan pengukuran di peta satelit. Untuk mendapatkan ukuran sebenarnya perlu pengukuran dilapangan.

Melihat ciri-ciri atau karakter lokasi, lokasi ini sangat mirip dengan sketsa kerajaan Atlantis yang ditulis dalam mitologi Yunani “Timeus dan Critias” karya Plato (360 SM). Mitologi ini menyebutkan “Poseidon mengukir gunung tempat kekasihnya tinggal menjadi istana dan menutupnya dengan tiga parit bundar yang lebarnya meningkat, bervariasi dari satu sampai tiga stadia dan terpisah oleh cincin tanah yang besarnya sebanding”. Bangsa Atlantis lalu membangun jembatan ke arah utara dari pegunungan, membuat rute menuju sisa pulau. Mereka menggali kanal besar ke laut, dan di samping jembatan, dibuat gua menuju cincin batu sehingga kapal dapat lewat dan masuk ke kota di sekitar pegunungan; mereka membuat dermaga dari tembok batu parit. Setiap jalan masuk ke kota dijaga oleh gerbang dan menara, dan tembok mengelilingi setiap cincin kota. Tembok didirikan dari bebatuan merah, putih dan hitam yang berasal dari parit, dan dilapisi oleh kuningan, timah dan orichalcum (perunggu atau kuningan). Ada kemiripan mitologi ini dengan mitologi yang ada di Lubuk Jambi.

Ini hanya sebuah dugaan yang belum dibuktikan secara ilmiah, oleh karena itu perlu dilakukan penelitian lebih lanjut. Survei arkeologi yang dilakukan ke lokasi belum bisa menyimpulkan lokasi ini sebagai peninggalan kerajaan karena belum cukup barang bukti untuk menyimpulkan seperti itu. Namun sudah dapat dipastikan bahwa daerah tersebut pernah dihuni atau disinggahi manusia dulunya.

Terlepas dari benar tidaknya sebuah mitologi, kesamaan cerita dalam mitos tersebut akan mengantarkan pada suatu titik terang. Tambo Minangkabau begitu indah didengar ketika pesta nikah kawin dalam bentuk pepatah adat menunjukkan kegemilangan masa lalu. Tambo Minangkabau dan Tombo Lubuk Jambi, dua cerita yang bertolak belakang. Minangkabau mengatakan bahwa nenek moyangnya adalah Sultan Maharaja Diraja putra Iskandar Zulkarnain yang berlabuh di puncak gunung merapi. Air laut semakin surut keturunan Maharaja Diraja berkembang di sana hingga menyebar kebeberapa daerah di Sumatra. Lain halnya dengan tambo Lubuk Jambi, tambo itu mengatakan bahwa nenek moyangnya adalah Maharaja Diraja putra Iskandar Zulkarnain, berlabuh di Bukit Bakar dan membangun peradaban di sana. Dari Lubuk Jambi keturunan-keturunannya menyebar ke Minangkabau dan Jambi. Namun tambo tidak menyebutkan tahun. Itulah sebabnya daerah ini dinamakan Lubuk Jambi yang berarti asalnya (lubuk) orang-orang Jambi. Menurut ceritanya, Kandis sejak kalah perang dalam ekspedisi Sintong dan penyembunyian peradaban mereka ceritanya disampaikan secara rahasia dari generasi ke generasi oleh Penghulu Adat atau dikenal dalam istilahnya ”Rahasio Penghulu”. Namun kebenaran cerita rahasia ini perlu dibuktikan.

Dari kedua tambo tersebut di atas, dapat ditarik benang merah yaitu ”sama-sama menyebutkan bahwa nenek moyang mereka adalah Iskandar Zulkarnain”. Tapi dalam catatan sejarah yang diketahui Iskandar Zulkarnain (Alexander the Great/ Alexander Agung) tidak mempunyai keturunan.
Plato-Atlantis-Iskandar Zulkarnain-Kandis
Plato, filosof kelahiran Yunani (Greek philosopher) yang hidup 427-347 Sebelum Masehi (SM). Plato adalah salah seorang murid Socrates, filosof arif bijaksana, yang kemudian mati diracun oleh penguasa Athena yang zalim pada tahun 399 SM. Plato sering bertualang, termasuk perjalanannya ke Mesir. Pada tahun 387 SM dia mendirikan Academy di Athena, sebuah sekolah ilmu pengetahuan dan filsafat, yang kemudian menjadi model buat universitas moderen. Murid yang terkenal dari Academy tersebut adalah Aristoteles yang ajarannya punya pengaruh yang hebat terhadap filsafat sampai saat ini.
Dengan adanya Academy, banyak karya Plato yang terselamatkan. Kebanyakan karya tulisnya berbentuk surat-surat dan dialog-dialog, yang paling terkenal mungkin adalah Republic. Karya tulisnya mencakup subjek yang terentang dari ilmu pengetahuan sampai kepada kebahagiaan, dari politik hingga ilmu alam. Dua dari dialognya “Timeus dan Critias” memuat satu-satunya referensi orisinil tentang pulau Atlantis.
Bagaimana hubungannya dengan Iskandar Zulkarnain, Iskandar adalah anak dari Raja Makedonia, Fillipus II. Ketika berumur 13 tahun, Raja Filipus mempekerjakan filsuf Yunani terkenal, Aristoteles, untuk menjadi guru pribadi bagi Iskandar. Dalam tiga tahun, Aristoteles mengajarkan berbagai hal serta mendorong Iskandar untuk mencintai ilmu pengetahuan, kedokteran, dan filosofi.
Iskandar Zulkarnain murid dari Aristoteles, dan Aristoteles murid dari Plato. Dari hubungan ini dapat diduga bahwa keturunan Iskandar Zulkarnain yang sampai ke Lubuk Jambi terinspirasi untuk membangun sebuah peradaban/Negara yang ideal seperti Atlantis. Maka mereka membangun sebuah istana dhamna “sebuah replika Atlantis”. Namun semua ini masih perlu pengkajian yang lebih mendalam.

Lalu Husnul Yaqien Juniansyah







MITOLOGI KERAJAAN BUMAYASATA

Kejayaan Nusantara Kerajaan Bumayasasta ini berdiri pada sekitar ±7200 SM, dengan pusat pemerintahannya yang berada di sekitar Kabupaten Tasikmalaya, Propinsi Jawa Barat sekarang. Orang yang mendirikan kerajaan ini bernama Humanayun yang kemudian bergelar Ratu Humanayun Humatani Suwakti Drugari. Peradaban yang dimiliki oleh kerajaan ini sudah tinggi, bahkan jauh sebelum orang Sumeria, Mesir, China atau bangsa Eropa membangun peradabannya. Dan begitulah nenek moyang bangsa Nusantara yang sesungguhnya, mereka adalah orang-orang hebat dan pernah menjadi pelopor dari peradaban dunia.
Untuk mempersingkat waktu, mari ikuti penelusuran berikut ini:

1. Awal kisah

Kisah berdirinya kerajaan ini dimulai ketika Humanayun masih tinggal di tempat kelahirannya, yaitu kerajaan Zayamata, yang kini berada di sekitar kepulauan Andaman bagian selatan (sekarang sudah menjadi lautan). Ia adalah seorang pangeran di kerajaan itu dan memiliki dua orang saudara lainnya. Yang tertua adalah seorang laki-laki bernama Hartamuni, sementara yang bungsu adalah seorang perempuan bernama Mayasina. Ayahnya, raja dari kerajaan Zayamata bernama Jayabara (bergelar Aryadupa), sedangkan ibunya bernama Hartinumaya Sari.

Awalnya kehidupan mereka ini sangat harmonis, meskipun kedua adiknya senang berfoya-foya dalam hidup dan cenderung agak malas. Sikap ini sangat jauh berbeda dengan Humanayun yang justru sangat rendah hati dan senang mencari ilmu kepada banyak orang yang bijak. Hingga pada akhirnya, pamannya, yaitu adik kandung dari bapaknya yang bernama Karanuti berhasil menghasut adik laki-laki Humanayun yang bernama Hartamuni untuk merebut tahta kerajaan. Ia benar-benar lupa bahwa tahta itu sudah menjadi hak dari kakaknya sejak lahir.

Singkat cerita, sampailah pada waktu dimana Hartamuni meminta langsung kepada ayahnya, yaitu raja Jayabara, untuk menyerahkan tahta kepadanya. Mendapati hal itu, awalnya sang ayah tidak langsung menyetujui permintaan itu. Ia bahkan merahasiakan hal itu dari anak tertuanya, sampai pada akhirnya ia jatuh sakit. Melihat keadaan ayahnya yang tidak sehat, Humanayun lalu bertanya apa gerangan yang menyebabkan ayahnya itu bisa seperti itu. Hidup tapi tidak lagi bergairah, bahkan sakit-sakitan. Terus saja ia mendesak, hingga pada akhirnya sang ayah mau menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Sang ayah lalu menjelaskan bahwa adiknya Hartamuni meminta tahta yang seharusnya menjadi hak dari Humanayun.
Mengetahui hal itu, Humanayun tidak begitu terkejut apalagi marah. Dan sebagai seorang yang rendah hati dan tidak terlalu tertarik dengan jabatan, akhirnya ia merelakan tahta kerajaan itu diberikan kepada adiknya itu, asalkan sang ayah bisa segera sembuh dari sakitnya. Mendengar jawaban dari anak kesayangannya itu, sungguh terharulah raja Jayabara hingga dari kedua matanya mengalirlah air yang deras.

Selajutnya, pada waktu yang telah ditentukan, tahta kerajaan pun diserahkan kepada anak kedua yang bernama Hartamuni itu. Namun disini caranya dengan menyerahkan tahta kerajaan kepada anak tertua (Humanayun) terlebih dulu. Setelah itu, di waktu yang sama, barulah Humanayun memberikan tahta itu kepada adiknya Hartamuni. Demikianlah prosesi serah terima jabatan atau peralihan kekuasaan yang terjadi di kerajaan Zayamata pada waktu itu. Berlangsung secara aman dan damai.
Setelah itu, sebagai seorang yang sudah banyak menimba ilmu dari banyak guru, pangeran Humanayun tidak berhenti disitu saja. Ia juga sudah mengetahui bahwa ada konspirasi dari pamannya untuk membunuh dirinya. Karena itulah, ia lalu memutuskan untuk segera pergi dari kota kerajaan dan memulai kehidupan yang baru. Dan sebagaimana tradisi pada masa itu dimana setiap raja atau pangeran pasti memiliki guru spiritual (yaitu seorang Resi), maka pangeran Humanayun telah mendapatkan wejangan dan bekal dari gurunya. Orang bijak itu bernama Puratani Murtayani. Dari sosok itu pangeran Humanayun juga mendapatkan sebuah bahasa dan aksara. Bahasanya bernamaGumali, sementara aksaranya bernama Gumartayasa. Bahasa dan aksara ini sebelumnya didapatkan oleh sang Residari Bhatara Brahmawiyasa. Pesan Resi Puratani adalah bahwa bahasa ini akan digunakan pada peradaban yang akan dibangun oleh pangeran Humanayun.

Singkat cerita, pangeran Humanayun pun akan berangkat meninggalkan kerajaan. Namun, sebelum keberangkatannya, maka raja Jayabara memberikan pesan kepada anaknya itu. Ia berkata; “Berjalanlah ke arah selatan. Dimana pun engkau menemukan mata air, maka disanalah engkau harus mendirikan peradaban”. Lalu setelah dirasa cukup, maka pangeran Humanayun beserta istrinya yang bernama Sinarisa Hayatida dan satu bayi laki-lakinya yang bernama Druwegti Irani, pergi meninggalkan kerajaan dengan berjalan kaki.

Mereka terus berjalan hingga pada akhirnya sampai di tanah Jawa, tepatnya di sekitar Kabupaten Tasikmalaya, Propinsi Jawa Barat sekarang. Di wilayah ini, mereka menemukan sumber mata air yang jernih yang berada di tengah lembah yang subur, dan sesuai dengan pesan dari ayahnya dulu, pengeran Humanayun lalu menetap disana dan mulai membangun tempat tinggalnya sendiri. Kemudian dari tempat itulah, ia dan masyarakatnya bisa membangun sebuah kerajaan besar.
Perlu diketahui juga bahwa pada masa itu, di tanah Jawa sudah ada beberapa kerajaan yang berdaulat. Di antaranya:

1. Artamiya (berada di sekitar pesisir utara propinsi Banten sekarang)
2. Jayabarda (berada di sekitar Semarang, propinsi Jawa Tengah sekarang)
3. Gurmatala (berada di sekitar kabupaten Gresik, propinsi Jawa Timur sekarang)
4. Napalu (berada di sekitar kabupaten Malang, propinsi Jawa Timur sekarang)
5. Aryamusa (berada di sekitar kabupaten Bondowoso, propinsi Jawa Timur sekarang)
6. Jakalang (berada di sekitar kabupaten Jepara, propinsi Jawa Tengah sekarang)
7. Jayarata (berada di sekitar kabupaten Kulonprogo, propinsi Jogjakarta sekarang)

Ke tujuh kerajaan itu sudah berperadaban tinggi, dengan bukti bahwa mereka sudah memiliki sistem ketatanegeraan yang lengkap dan militer yang kuat. Kehidupan mereka pun sudah maju, dengan sistem pertanian dan perkebunan yang tertata dengan rapi. Perdagangan juga sudah mereka lakukan, baik sesama bangsa di tanah Jawa maupun dengan bangsa-bangsa yang ada di wilayah Asia, Timur Tengah dan Afrika. Begitu pula dengan teknik pengolahan atau penempaan logam, mereka juga sudah sangat mumpuni. Berbagai peralatan rumah tangga, alat pertanian dan perkebunan sampai persenjataan untuk militer sudah bisa mereka produksi sendiri. Tanggungjawab dalam bidang ini biasa dipegang oleh seorang empu atau pandai besi yang mumpuni.

2. Pendirian kerajaan

Pada mulanya kerajaan ini masih sangat kecil, bahkan tidak bisa dikatakan sebuah kerajaan. Karena pada masa itu di wilayah tempat tinggal pangeran Humanayun hanya ada keluarganya saja, lalu datanglah orang-orang untuk bergabung dan membuat sebuah perkampungan. Barulah kemudian dengan berjalannya waktu, daerah perkampungan itu mulai terkenal ke berbagai wilayah. Orang-orang pun banyak berdatangan, karena di daerah ini memang sangat subur dan bisa menopang kehidupan orang banyak dengan layak. Dan karena memang sudah begitu banyak penduduknya, maka haruslah dibuat semacam perangkat adat dan tata aturan (hukum) yang bisa mengatur kehidupan di wilayah itu. Pangeran Humanayun lalu oleh masyarakat setempat di angkat sebagai pemimpin mereka. Dan selanjutnya oleh pangeran Humanayun, wilayah yang ia pimpin itu lalu diberi namaBumayasasta, yang berarti negeri yang makmur dan merdeka.

Waktu terus berlalu dan kesejahteraan yang ada di wilayah Bumayasasta sudah sering terdengar di luar daerah. Banyak kerajaan yang mulai tertarik untuk menjalin hubungan dagang, bahkan sampai ada pula yang ingin menguasainya. Tapi karena kesaktian dan kecerdasan dari pangeran Humanayun dan kekompakkan seluruh rakyatBumayasasta, maka tidak pernah ada kerajaan yang berhasil menaklukkan daerah ini. Dan karena sudah banyak kerajaan yang gagal untuk menaklukkan wilayah Bumayasasta ini, maka raja-raja yang ada pada waktu itu sepakat memberikan gelar Ratu kepada pangeran Humanayun. Gelar Ratu pada waktu itu berarti pemimpin dari semua kerajaan. Gelar ini setara dengan gelar Maharaja pada masa kerajaan Sriwijaya atau Majapahit.

Selain itu, wilayah Bumayasasta juga telah diakui sebagai satu wilayah kerajaan yang berdaulat. Bahkan selanjutnya, karena tertarik dengan kekayaan, kesejahteraan dan kedamaian dari kerajaan Bumayasasta ini, satu persatu kerajaan yang ada di sekitarnya ikut bergabung dengan kerajaan Bumayasasta. Karena itulah, tanpa perlu menaklukkan, maka wilayah kerajaan Bumayasasta terus saja meluas dari tahun ke tahun. Bahkan pada akhirnya bisa mencakupi semua wilayah yang sekarang disebut dengan Propinsi Banten, Jakarta, Jawa Barat, Jogjakarta dan Jawa Tengah.

3. Kondisi alam dan tata kota kerajaan

Wilayah Tasikmalaya pada masa itu sangat subur dan sumber daya alamnya masih sangat berlimpah seperti emas, perak dan batu marmer. Karena itulah, pada akhirnya masyarakat Bumayasasta mampu membangun gedung-gedung megah dari bahan batu marmer dan logam mulia. Contohnya, untuk pondasinya istananya saja terbuat dari batu marmer warna hitam, sedangkan marmer yang berwarna putih digunakan untuk dinding dan lantainya. Begitu pula bahan baku untuk membuat pilarnya juga terbuat dari batu marmer putih dan tentunya sudah dihaluskan. Sementara itu, bahan yang digunakan untuk pembuatan atap justru lebih mengagumkan, karena berasal dari emas. Rumah penduduknya juga luarbiasa, karena dindingnya saja terbuat dari batu hitam (andesit) dan lantainya dari batu marmer putih. Untuk atapnya juga luarbiasa, karena mereka sudah menggunakan bahan dari emas atau perak. Selanjutnya mengenai tata kotanya, maka kerajaan Bumayasasta ini dibangun di tengah-tengah sebuah lembah yang sangat subur dan airnya berlimpah. Semua bangunan yang ada telah diatur melingkar dengan istana sebagai pusatnya.

Sungguh hebat mereka ini dalam menata kotanya. Banyak pula taman bunga dan taman bermain untuk warga yang ingin bersantai atau sekedar melepas lelah. Ada juga air mancur dan kolam yang berbentuk bulat, kotak atau persegi panjang yang dibangun di antara sudut-sudut taman kota. Bahkan tidak sedikit bangunan piramida didirikan untuk lebih mempercantik keindahan kota. Semua kemegahan itu, akan membuat siapapun jadi betah untuk berlama-lama tinggal di ibukota kerajaan ini. Dan inilah negeri yang sangat indah, yang pernah ada di tanah Jawa, sebagaimana yang sering digambarkan dalam sebuah kisah dongeng.

4. Perekonomian

Mereka sudah melakukan perdagangan lintas bangsa dan negara yang ada di kawasan regional Asia Tenggara, bahkan yang berada di kawasan Afrika, India, China dan Timur Tengah. Komoditi yang di perdagangkan saat itu adalah hasil pertanian, perkebunan, peternakan, barang tambang (emas, perak, perunggu), perhiasan, peralatan rumah tangga, kain dan pakaian. Semua komoditi itu sudah mereka produksi sendiri di dalam kerajaan Bumayasasta. Dan sebagai bangsa yang besar, tentu mereka juga sudah menerapkan teknologi yang tinggi untuk menjaga kualitasnya. Lalu untuk memperlancar proses transaksi, mereka sudah menggunakan mata uang berupa koin yang terbuat dari emas, perak dan perunggu.


5. Penduduk

Perlu diketahui disini bahwa mereka hidup dengan umur rata-rata antara 150-200 tahun. Ciri-ciri fisik mereka awalnya berkulit putih, berwajah lonjong, berhidung mancung, bermata warna hitam dan rambut yang juga berwarna hitam. Namun seiring berjalannya waktu, dan karena telah bercampur – melalui perkawinan – dengan penduduk lokal di tanah Jawa, maka generasi berikutnya lalu berkulit kuning langsat, berwajah tidak terlalu lonjong, bentuk hidung ada yang mancung dan ada yang sedang, sedangkan warna mata dan rambut mereka tetap hitam.

Mengenai keadaan penduduknya, maka di akhir kehidupan kerajaan ini, jumlah populasi yang ada di ibukota negaranya sudah mencapai angka sekitar ±2.000.700 orang. Lalu dari jumlah itu, maka terdapat ±5.000 orang yang menjadi tentara, yang bertugas untuk menjaga keamanan dan kedaulatan negara dari segala ancaman. Terutama yang datang dari luar negeri.

Kehidupan sosial mereka sangatlah harmonis. Mereka sangat menjunjung tinggi rasa kebersamaan dan gotong royong. Cinta dan kasih sayang selalu mereka wujudkan dalam berbagai perilaku sehari-hari. Tidak ada rasa iri, dengki, hasut, fitnah, sombong, dan benci kepada siapa pun. Di negeri Bumayasasta bahkan tidak pernah ada pencuri atau penipu dan penjaranya selalu kosong. Hakim ada, tetapi pekerjaannya justru seperti para ulama yang selalu mengajarkan kebaikan dan mendaraskan ajaran kitab suci. Dan begitulah masyarakat Bumayasasta hidup dan menjalankan kehidupannya sehari-hari dengan penuh kedamaian, kesejahteraan dan keharmonisan. Sungguh menakjubkan.
Selain itu, tentang cara berpakaian mereka ini sangat berbeda dari gambaran kita sekarang tentang masyarakat Jawa pada masa kerajaan Majapahit atau Pajajaran. Karena model pakaian mereka sangat sopan dan jenis pakaian yang dikenakan sehari-hari tertutup. Tidak ada model pakaian yang bertelanjang dada, karena kainnya panjang menjuntai dan untuk yang laki-laki bahkan mengenakan jubah. Mereka juga sudah menggunakan sandal atau sepatu dari bahan kayu dan kulit hewan.

6. Daftar raja-raja

Kerajaan Bumayasasta ini berdiri selama ±1.255 tahun. Selama itu, karena sistem ketatanegaraannya adalah kerajaan (monarki), maka pergantian kepemimpinan selalu diwariskan oleh orang tua kepada anaknya. Ada 15 orang yang pernah memimpin kerajaan ini. Adapun di antaranya sebagai berikut:

1. Ratu Humanayun Humatani Suwakti Drugari (0-112) -> pendiri kerajaan Bumayasasta
2. I Gusti Druwegti Irani Juwagni Humanarun (112-201)
3. I Gusti Ratu Humalang Angruwarbhumi (201-273) -> awal puncak kejayaan
4. Jayagusti Karya Murtani (273-337)
5. Armayunata I Dwi Jayablambang (337-442)
6. I Gusti Putrani Jayawali Sumartapani (442-487)
7. I Dwi Purmotaniyasa Jagarata Wardalina (487-586) -> seorang wanita
8. Kaswaritana Paripari Wardalina (586-687)
9. I Gusti Ambarayana Karyawijaya (687-788)
10. Ingmadya Subaktali Marputi (788-863)
11. Purowarsali Madali Canali (863-909)
12. Arya Dwi Cahayana Muksatani (909-990) -> seorang wanita
13. Putriyanalita Arda Mustaliyana (990-1.055) -> seorang wanita
14. Wijaya Dharma Pangestu Angkasa (1.055-1.180)
15. Panca Angga Murtaliyan Wijayaksa Sambirayata (1.180-1.255) -> pada masa beliau ini kerajaan dipindahkan ke dimensi ke-3 (Galatasyi) atas perintah dari Bhatara Brahmawiyasa.
Demikianlah ke 15 orang Ratu yang pernah memimpin kerajaan Bumayasasta. Selama masa peralihan kekuasaan, maka tidak pernah ada pertikaian atau kudeta berdarah. Semua berjalan dengan aman dan damai. Dan bisa itu terjadi karena siapapun mereka yang merupakan warga negara Bumayasasta sudah tahu diri dan sadar akan perannya masing-masing. Setiap orang hanya sibuk dalam mengerjakan tugas dan kewajibannya, jadi mereka tidak akan mau mencampuri urusan orang lain apalagi yang bukan haknya.

7. Keyakinan (agama)

Sebagai masyarakat yang sangat tertata dan beradab, tentunya mereka sudah mengenal suatu keyakinan tertentu. Dan di kerajaan ini sejak awal sudah mempunyai satu kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Selain itu, mereka juga percaya tentang keberadaan para dewa, terutama Tri Murti (Brahma, Siwa dan Wisnu) – tapi tidak lantas menganggap mereka itu sebagai Tuhan atau perwujudan dari Tuhan. Karena bagi mereka Tuhan itu tetaplah Dzat Yang Maha Esa dan tiada perbandingannya, sementara para dewa itu hanyalah makhluk supranatural yang diciptakan oleh Tuhan dan memang patut untuk dihormati. Tapi sekali lagi, tidak untuk disembah, sebagaimana mereka harus menyembah Tuhan Yang Maha Kuasa.

Mereka juga melakukan semacam ritual keagamaan khusus untuk para dewa itu, yang di lakukan di dalam sebuah candi/pure yang mereka didirikan. Ini bukan sebagai bentuk dari pemujaan atau penyembahan seorang hamba kepada Tuhannya, tapi lebih kepada sikap menghormati dan upaya untuk menyatukan (sinkronisasi) prinsip mikrokosmos dan makrokosmos yang ada di dalam kehidupan ini. Masyarakat Bumayasasta tetap menyembah hanya kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan itulah inti tauhid bagi mereka sejak awal sampai akhir zaman.

Secara khusus tidak ada nama dari keyakinan mereka, namun mereka mempunyai kitab suci sebagai panduan hidup. Kitab suci itu lalu disebut dengan Purana. Tapi disini tidak sama dengan kitab yang dimiliki oleh umat Hindu sekarang, namanya saja yang kebetulan sama. Begitu pun tentang ritual keagamaannya, tentu sangat berbeda dengan yang dilakukan oleh para penganut Hindu saat ini, khususnya yang ada tanah di India dan Bali. Karena mereka tidak menggunakan sesajen untuk patung dan tempat keramat. Hanya ada sebuah simbol yang terbuat dari batu warna hitam sebagai simbol untuk spiritualitas. Dan itu hanya sekedar simbol belaka, sebab keyakinan yang dianut di dalam hati hanyalah kepada Tuhan Yang Maha Esa. Hal ini persis dengan prinsip keyakinan dari agama Islam, dimana semua Muslim saat ibadah shalat harus menghadap ke arah Ka`bah yang berada di kota Makkah. Dan disini bukan berarti semua orang Islam itu lantas menyembah Ka`bah yang hanya terbuat dari batu biasa itu, tetapi niatnya tetap hanya kepada Tuhan Yang Maha Esa, yaitu Allah SWT. Ka`bah hanya sebatas simbol dari spiritualitas dan wujud persatuan bagi umat Islam di seluruh dunia. Bukan sesuatu yang patut disembah.

8. Bahasa dan Aksara (Gumali dan Gumartayasa)

Sebagaimana yang sudah disebutkan di atas, maka di kerajaan Bumayasasta telah menggunakan bahasa dan aksaranya sendiri. Dengan bahasa dan aksara itu mereka bisa berkomunikasi dengan baik, baik secara lisan maupun tulisan.
Berikut ini diberikan contoh kalimat dalam bahasa Gumali :
Tanya: Drumatani mukti (aku ingin belajar)
Jawab: Kaliya sumawi dukanata suwatani (ya aku akan mengajarkan sampai kamu paham)
Selanjutnya, aksara yang telah mereka pergunakan diberi nama Gumartayasa. Sebuah aksara yang di dapatkan dari guru spiritual pangeran Humanayun yang bernama Resi Puratani Murtayani. Tapi aksara ini bukanlah karya dari sangResi sendiri, melainkan didapat dari Bhatara Brahmawiyasa setelah ia melakukan tapa brata. Dari bentuknya ada kemiripannya dengan huruf Hijaiyah, bahkan cara penulisannya pun sama yaitu dari arah kanan ke kiri. Berikut ini diberikan sekilas keterangannya:

a) Istilah abjad: Sa, Ba, Ka, La, Ma, Na, Wa, Ya, Da, Pa, Ta, Ga, Ha, Ra, Kha, Za.
b) Istilah angka: 1 (Saha), 2 (Baha), 3 (Taha), 4 (Jaha), 5 (Waha), 6 (Kaha), 7 (Paga), 8 (Jaga), 9 (Arga), 10 (Sahara), 11 (Sahala), 12 (Bahala), 13 (Tahala), 14 (Jahala), 15 (Wahala), 16 (Kahala), 17 (Pagala), 18 (Jagala), 19 (Argala), 20 (Bahagha), puluhan (Gha), ratusan (Sur), ribuan (Tur), jutaan (Har).
c) Tanda baca: Tima (.), Lima (,), Tuma (+), Kuma (-), Guma (÷), Kalima (x), Sama (=).
Catatan: Maaf, di blog ini saya belum bisa memberikan gambar bentuk aksaranya, karena hanya untuk koleksi pribadi dan belum saatnya ditunjukkan.

9. Akhir kisah

Kisah akhir dari kerajaan ini tidaklah hancur atau musnah karena perang dan bencana, tetapi sengaja dipindahkan ke dimensi lain, tepatnya ke dimensi lapisan ketiga (Galatsyi). Peristiwa itu terjadi setelah raja yang terakhir yang bernama Panca Angga Murtaliyan Wijayaksa Sambirayata mendapat titah dari Bhatara Brahmawiyasa untuk memindahkan kerajaan – beserta bangunan dan rakyatnya – ke dimensi lapisan ketiga. Semua itu terjadi karena mereka telah hidup dengan sangat baik, tidak senang merusak dan penuh dengan kedamaian.

Lalu sesuai dengan waktu yang telah ditentukan, maka seluruh rakyat diminta untuk masuk ke dalam candi-candi yang ada di ibukota untuk bermeditasi dan berdoa. Selanjutnya sang raja dengan kekuatan dan kesaktiannya berdiri di depan istana untuk memindahkan kerajaan ke tempat yang telah ditentukan. Dan memang, atas izin dari Tuhan Yang Maha Kuasa, maka sejak saat itu kerajaan Bumayasasta dan orang-orang yang hidup di dalamnya berpindah ke dimensi lapis ketiga (Galatasyi). Mereka tetap menjalani kehidupan disana hingga saat ini dan sampai batas waktu yang telah Tuhan kehendaki nanti.

Catatan: Perpindahan disini hanya berlaku bagi mereka yang tinggal dan menetap di ibukota kerajaan Bumayasasta, tidak untuk mereka yang tinggal di wilayah lain (yang dulunya adalah kerajaan-kerajaan tetangga yang akhirnya bergabung). Perpindahan ke dimensi lain memang berlaku bagi semua orang beserta seluruh bangunan yang ada di ibukota kerajaan. Sementara bagi mereka yang tidak ikut berpindah, maka mereka inilah yang terus mempertahankan tradisi dan budaya yang pernah bersumber di pusat ibukota kerajaan Bumayasasta. Mereka terus mempertahankan dan menyebarkannya sampai ribuan tahun kemudian. Bahkan pada akhirnya mereka juga sangat berperan penting dalam membangun peradaban dunia. Khususnya di berbagai bangsa yang besar, seperti Sumeria, Mohenjo-Daroo, Mesir, Yunani dan Persia.

10. Penutup

Wahai saudaraku. Banyak hal yang sudah terlupakan di tanah Nusantara ini. Waktulah yang menyebabkan hal itu, dan bencana alamlah yang menjadi hakim dan algojonya. Dan kini, orang-orang masih saja pesimis bahwa tidak pernah ada peradaban besar di tanah Nusantara ini. Apalagi sebelum era Masehi, maka para ahli bahkan mengatakan di Nusantara ini belum ada peradaban sama sekali. Kalau pun ada, itu hanya sebatas masyarakat yang sangat primitif, yang masih bertelanjang badan dan belum mengenal teknologi. Hidup mereka pun dianggap masih dari hasil berburu dan memungut makanan di hutan. Padahal sesungguhnya telah banyak peradaban besar yang pernah ada di tanah Nusantara ini. Bahkan jauh sebelum bangsa Barat mulai berusaha membangun peradabannya.

Lihatlah kerajaan Bumayasasta ini. Mereka telah membangun peradaban yang besar dan maju sejak ±7.200 SM. Satu angka tahun yang lebih awal dari peradaban Sumeria, Mohenjo-Daroo, dan Mesir. Dan memang kita tidak bisa langsung mengatakan bahwa kerajaan Bumayasasta adalah yang terhebat atau pada saat itu hanya ada satu peradaban besar di tanah Jawa saja, sedangkan di tempat lain tidak. Karena kenyataannya sudah ada peradaban lain, di negeri lain yang ada di belahan Bumi lainnya, yang se-zaman dengan kerajaan Bumayasasta. Mereka juga sudah membangun peradaban yang besar dengan ciri khasnya sendiri. Meskipun perlu diakui tak sehebat dan semaju peradaban besar yang ada di tanah Nusantara.

Artinya, perlu di lakukan revisi tentang sejarah kehidupan manusia. Sebab, sesungguhnya jauh sebelum tahun 5.000 SM, sudah ada peradaban besar yang bahkan merata di seluruh dunia. Ya seperti di masa sekarang, dimana peradaban dunia saat ini juga merata di semua bangsa dan benua. Apa yang sudah dimiliki oleh sebuah bangsa, juga dimiliki oleh bangsa yang lain. Contohnya saja seperti komputer, handphone, televisi, kendaraan (motor, mobil, pesawat, kapal), gedung bertingkat, persenjataaan (pistol, senapan, granat, rudal, dll) dan sebagainya. Dan jika kita mengaitkannya dengan kehidupan di masa lalu, maka itu jelas menunjukkan bahwa peradaban di atas Bumi ini selalu berulang. Setelah pernah hancur oleh sebab perang atau bencana dan azab Tuhan, maka beberapa waktu kemudian (ratusan atau ribuan tahun) akan kembali bangkit. Tapi sayang, karena ulah jahil dan kesalahan dari manusia sendirilah, peradaban itu pada akhirnya kembali hancur. Begitulah seterusnya, hingga keadaan seperti ini terus berulang dan berulang lagi di setiap periode zamannya. Sampai pada akhirnya nanti semua itu benar-benar berhenti dan Hari Kiamat yang maha dashyat telah datang. Ketika itu, bukan hanya peradaban manusia saja yang berhenti, tapi kehidupan dunia pun akan berakhir. Semuanya akan hancur lebur dan menjadi satu hamparan yang maha luas.
Untuk itu, bukanlah hal yang aneh, atau bahkan sebuah keniscayaan jika bangsa ini mau mengembalikan sistem ketatanegaraan yang pernah ada di Nusantara. Sebuah sistem kepemimpinan negara yang berpusat pada sosok yang mendapatkan Wahyu Keprabon. Sosok itu haruslah orang yang memiliki kemampuan khusus dan luarbiasa kesaktiannya. Bukan seperti sekarang ini yang justru untuk mendapatkan jabatan saja harus “menjual diri” (kampanye) dan jadi pesuruh partai. Berbeda jauh dengan sistem yang pernah ada di kerajaan Bumayasasta, dimana seorang pemimpin itu sangatlah mandiri dan harus teruji kemampuan lahir dan batinnya. Ia haruslah sosok yang cerdas dan sakti mandraguna dan tentunya tidak butuh partai atau golongan untuk mendukungnya. Ia tampil sendiri dengan segala keunggulannya dan rakyat bisa menaruh hormat dan cinta setelah melihat langsung tindak tanduknya. Sehingga dengan begitu, sang pemimpin dan juga kerajaannya bisa tampil dengan penuh kewibawaan di mata semua bangsa. Dan lihatlah, kehidupan berbangsa dan bernegara yang ada di kerajaan Bumayasasta selalu bisa aman, damai, makmur dan sejahtera tanpa perlu ikut-ikutan sistem dan aturan bangsa lain. Mereka membuat satu tatanannya sendiri, yang diilhami dari karakter dan kebutuhan bangsa mereka pada waktu itu. Sistem ini lalu disebut dengan sistem ke-Ratu-an. Dimana seorang Ratu adalah pemimpin tertinggi yang menjadi suri tauladan, pengayom dan simbol kebanggaan bagi rakyatnya. Sosok Ratu ini adalah orang-orang yang luarbiasa dan mereka telah memiliki berbagai keahlian dan kesaktian. Rakyat akan selalu menghormati dan kagum kepada mereka. Karena itulah, ia memiliki kharisma yang kuat dan selalu bisa menyelesaikan berbagai masalah kehidupan dengan lancar.

Jika bangsa ini benar-benar ingin bangkit dan berjaya lagi, maka syaratnya harus mau kembali ke jati dirinya sendiri. Jangan lagi ikut-ikutan sistem yang bukan berasal dari bangsa sendiri. Karena yang terjadi selama ini adalah bahwa bangsa ini sudah menyimpang dari ajaran luhur dan tradisi yang mengakar di tanah Nusantara ini. Yaitu sebuah sistem ketatanegaraan yang menganut pola ke-Ratu-an atau ke-Datu-an atau ke-Maharaja-an. Tanpa hal itu, bangsa ini hanya akan menjadi boneka dari bangsa lain. Dan itu terjadi karena pemerintah atau juga pemimpinnya secara otomatis akan menjadi pengekor (jongos) yang terbelenggu. Yang namanya ekor itu selalu dibelakang, tidak akan pernah bisa di depan. Artinya, bangsa ini selamanya akan selalu terbelakang, tidak bisa bangkit dan mandiri, karena selalu terbelenggu dan menurut saja apa kata orang (bangsa lain).

Jadi, selain sistem ke-Ratu-an atau ke-Datu-an atau ke-Maharaja-an, maka sistem apapun itu tidak akan pernah mendapatkan restu dari Langit dan Bumi. Tuhan tidak akan merestui, para leluhur juga tidak akan mau membantu sebuah sistem yang bukan dari warisan mereka. Sehingga bangsa ini akan terus melemah, terombang-ambing dan jadi budak atau santapan bangsa lain. Sebaliknya, jika bangsa ini mau kembali pada aturan dan ketatanegaraan seperti di zaman nenek moyang dulu, maka negeri tercinta ini akan makmur dan sejahtera. Kekuatan sejatinya akan kembali. Seperti halnya kerajaan Bumayasasta yang sangat makmur dan beradab.

Lalu Husnul Yaqien Juniansyah





MITOLOGI SEJARAH JAWA

Sebutan untuk pulau Jawa di zaman dahulu, merupakan satu dari gugusan pulau-pulau di Asia Tenggara yang disebut Nusantara, dimana pada waktu itu masih dinamakan dengan Sweta Dwipa. 

Gugusan kepulauan di Asia Selatan dan Tenggara dinamakan anak benua atau gugusan pulau-pulau Jawata. Dahulu ,anak benua di India disebut Jambu Dwipa, sedangkan seluruh kepulauan Nusantara disebut Sweta Dwipa. 

Karena Jambu Dwipa dan Sweta Dwipa berasal dari daerah yang sama, maka tidak heran kalau budayanya banyak yang menyerupai atau dalam perkembangan saling mempengaruhi.

Dari perkembangan geografis, pada 20 hingga 36 juta tahun lalu, di Asia bagian selatan terjadi proses bergeraknya anak benua India ke utara, mengakibatkan tabrakan dengan lempengan yang diutara, akibatnya ada tanah yang mencuat keatas , yang kini dikenal sebagai gunung Himalaya.

Pada saat itu dataran Cina masih terendam lautan.Anak benua yang diselatan dan tenggara ,yaitu Jawata, termasuk Sweta Dwipa dan Jawa Dwipa muncul sebagai pulau-pulau mata rantai gunung berapi.

 




Dalam cerita kuno dikatakan bahwa orang Jawa itu anak keturunan atau berasal dari dewa. Dalam bahasa Jawa orang Jawa disebut Wong Jawa, dalam bahasa ngoko-sehari-hari, artinya : wong itu dari kata wahong Jawa, artinya orang Jawa itu adalah anak keturunannya dewa. Begitu pula Tiyang Jawaitu dari Ti Hyang Jawa artinya juga sama, yaitu anak keturunan dewa ,dalam bahasa krama inggil –halus.

Jawata artinya adalah dewa, gurunya orang Jawa.

Menurut pedalangan wayang kulit, keindahan pulau Jawa dikala itu telah menarik perhatian dewa dewi dari kahyangan, sehingga mereka turun ke marcapada, tanah Jawa dan membangun kerajaan-kerajaan pertama di Jawa Dwipa.Raja Kediri, Jayabaya adalah Dewa Wisnu yang turun dari kahyangannya.Jayabaya amat populer di Jawa dan Indonesia karena ramalannya yang akurat mengenai sejarah perjalanan negeri ini dan berisi nasihat-nasihat bijak bagi mereka yang memegang tampuk pimpinan negara, para priyayi/pejabat negara, tetapi juga untuk kawula biasa.Ajarannya mengenai perilaku yang baik benar sebenarnya juga mempunyai kebenaran universal.

Kerajaan Pertama

Jawa Dwipa, menurut salah satu sumber adalah kerajaan dewa pertama di pulau Jawa , letaknya di gunung Gede, Merak, dengan rajanya Dewo Eso atau Dewowarman yang bergelar Wisnudewo. Ini melambangkan dewa kahyangan, permaisurinya bernama Dewi Pratiwi, nama dari Dewi Bumi. Dia adalah putri dari seorang begawan Jawa yang terkenal yaitu Begawan Lembu Suro yang tinggi elmunya/pengetahuan spiritualnya ,. yang mampu hidup di tujuh dimensi alam (Garbo Pitu), tinggal di Dieng (letak geografis di Jawa Tengah).

Dieng dari Adhi Hyang artinya suksma yang sempurna.

Perkimpoian Wisnudewo dengan Dewi Pratiwi melambangkan turunnya dewa yang berupa suksma untuk menetap dibumi. Keberadaannya di bumi aman dan bisa berkembang karena didukung oleh daya kekuatan bumi yang digambarkan sebagai Begawan Lembu Suro.

Kecantikan Pulau Jawa bahkan menarik hati Rajanya para dewa yaitu Betara Guru untuk mendirikan kerajaan dibumi. Turunlah dia dari domainnya di Swargaloka dan memilih tempat tinggal di gunung Mahendra. ( Kini disebut Gunung Lawu terletak diperbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur antara Surakarta dan Madiun). Betara Guru punya nama lain Sang Hyang Jagat Nata , ratunya Jagat Raya – The king of the Universe dan Sang Hyang Girinata, ratunya gunung-gunung, – the King of Mountains. Di kerajaan Mahendra, Sorga yang agung – The great Heaven , Betara Guru memakai nama Ratu Mahadewa.
Karaton kerajaan Mahendra dibangun mirip seperti karatonnya yang di Kahyangan.
Piranti-piranti sorga juga dibuat, antara lain:

Gamelan, seperangkat alat musik untuk hiburan para dewa dengan menikmati alunan suaranya yang merdu dan saat sedang menari/olah beksa. Menari/olah beksa itu bukanlah sekedar mengayunkan raga mengikuti ritme musik tetapi merupakan latihan untuk konsentrasi dan selanjutnya kontemplasi untuk mengenal jati diri dan menemui Sang Pencipta (seperti Yoga dalam arti yang sebenarnya) . Nama gamelan itu adalah Lokananta.
Patung-patung penjaga istana yaitu Cingkarabala dan Balaupata , yang diletakkan dikanan-kiri pintu gerbang istana. Artinya istana dijaga kuat sehingga aman.
Pusaka berupa keris , cakra, tombak, panah, dll dibuat oleh empu terkenal yaitu Empu Ramadhi.

Raja Dewa Lain
Setelah para dewa bisa tenang tinggal dibumi Jawa , menikah dengan putri pribumi dan punya anak keturunan, Betara Guru kembali ke Kahyangan. Beberapa putranya ditunjuk untuk meneruskan memimpin kerajaan-kerajaan selain di Jawa juga di Sumatra dan Bali.
  • Di Sumatra : Sang Hyang Sambo bergelar Sri Maharaja Maldewa, di kerajaan Medang Prawa, di gunung Rajabasa .( Didekat Ceylon sekarang ada negeri Maldives).
  • Di Bali : Sang Hyang Bayu , bergelar Sri Maharaja Bimo, di Gunung Karang , kerajaannya Medang Gora. ( Pulau Bali juga terkenal sebagai Pulau Dewata).
  • Di Jawa : Sang Hyang Brahma bergelar Sri Maharaja Sunda, di gunung Mahera , Anyer, Jawa Barat. Kerajaannya Medang Gili.( Asal mulanya penduduk yang tinggal di Jawa bagian barat disebut orang Sunda). Sang Hyang Wisnu bergelar Sri Maharaja Suman , di gunung Gora , Gunung Slamet , Jawa Tengah. Kerajaannya Medang Puro. Sang Hyang Indra, bergelar Sri Maharaja Sakra, di gunung Mahameru, Semeru , Jawa Timur. Kerajaannya Medang Gana.
Karaton dipuncak gunung

Menarik untuk diperhatikan bahwa para dewa selalu membangun karaton dipuncak-puncak gunung. Ini menggambarkan dewa itu berasal dari langit, dari tempat yang tinggi. Tempat tinggi, diatas itu artinya bersih, jauh dari hal-hal kotor, sikap harus dijaga tetap suci, baik, benar, sopan, bagi dewa yang telah menjadi manusia dan tinggal dibumi.

Bumi Samboro

Ini artinya tanah yang menjulang kelangit. Dalam kebatinan Kejawen, contohnya adalah Gunung Dieng, Adhi Hyang, maksudnya supaya orang selama masih hidup didunia mencapai puncak pengetahuan spiritual, mendapatkan pencerahan jiwani, tinggi elmunya, suci lahir batin. Puncak itu adalah Adhi Hyang atau Bumi Samboro.

Dewo ngejowantah
 
Dewa yang menampakkan diri. Dewa yang berbadan cahaya bisa menampakkan diri dan dilihat oleh saudara-saudara kita yang telah tinggi tingkat kebatinannya, yang sudah bontos elmu sejatinya., artinya sudah melihat kasunyataan – kenyataan sejati.

Dipandang dari sudut spiritualitas, turunnya dewa ke bumi adalah gambaran dari merasuknya suksma, spirit, jiwa kedalam badan manusia dan lalu menjadi manusia. Oleh karena itu, manusia termasuk manusia Jawa adalah berasal dari suksma, spirit, dewa.

Orang Jawa

Orang Jawa adalah sebutan bagi orang yang tinggal di Jawa dwipa atau dipulau Jawa pada dulu kala.Pada saat ini yang dinamakan orang Jawa adalah penduduk yang menghuni di pulau Jawa bagian tengah dan timur yang disebut suku bangsa Jawa dan anak keturunannya. 

Pada umumnya mereka masih melestarikan budaya, adat istiadat warisan nenek moyangnya dan berbicara bahasa Jawa.Kebanyakan anak keturunan orang Jawa yang tinggal diluar “tanah Jawa” seperti di Jakarta dan daerah maupun negara lain, meski masih melestarikan atau akrab dengan budaya leluhurnya, sudah tidak lagi berkomunikasi dengan bahasa Jawa, mereka menggunakan bahasa Indonesia.

Harus diberi acungan jempol bahwa semua suku bangsa yang bermacam-macam di Indonesia, menjunjung tinggi rasa ke- Indonesia-an ,sebagai satu rumpun bangsa yang bersatu.Terlahir sebagai bangsa Indonesia sudah terpatri didalam lubuk hati yang terdalam sejak kelahiran ditanah air tercinta Indonesia, tidak peduli apa suku bangsanya. Rasa kepatriotan kesukuan tidak ada, yang ada adalah patriot Indonesia!

Dalam masyarakat multikultural Indonesia yang pluralistis, budaya, adat istiadat bermacam daerah dilestarikan dan dikembangkan untuk disumbangkan kepada Indonesia merdeka yang bersatu, bernaung dibawah kibaran bendera pusaka Merah Putih.